Resensi Film Love Exposure

Another Sion Sono's movie, another crazy movie! Semakin
banyak saya menonton karya Sono semakin saya menyukai sutradara yang satu ini.
Dia punya tingkat kegilaan yang tidak kalah dari kompatriotnya sesama sineas
Jepang, Takashi Miike, tapi Sono punya kelebihan dalam penulisan ceritanya yang
dalam, rumit serta banyak menyentil aspek-aspek kehidupan disekitar kita. Yang
jelas tidak seperti Miike, Sono belum "tergoda" merambah area film
pasar untuk mencari makan. Satu lagi karya gilanya dan mungkin yang paling
lengkap adalah Love Exposure, film
tahun 2008 yang berhasil meraih penghargaan FIPRESCI Prize pada ajang Berlin
International Film Festival. Film ini sendiri pada awalnya mempunyai durasi
enam jam sebelum akhirnya dipotong menjadi empat jam atas permintaan produser.
Jadi film macam apa yang punya durasi sepanjang itu? Jawabannya adalah sebuah
cerita cinta, agama dan keluarga yang epic dari
seorang jenius bernama Sion Sono. Ada tiga karakter utama dalam film ini yang
akan diperkenalkan satu per satu kepada penonton. Yang pertama adalah Yu Honda
(Takahiro Nishijima) seorang remaja yang sedari kil tinggal di sebuah keluarga
religius. Sang ibu selalu mengajarkan pada Yu sedari kecil untuk menjadi
penganut Kristen yang taat, dan itu membuat Yu ingin mencari sosok wanita yang
seperti Bunda Maria. Sepeninggal ibunya, Yu tinggal bersama sang ayah yang
memilih untuk menjadi pendeta.
Kehidupan Yu bahagia bersama ayahnya yang juga dicintai para
jemaat karena ceramahnya yang menyegarkan. Tapi kehidupan Yu berubah setelah
sang ayah tergoda oleh seorang wanita bernama Kaori (Makiko Watanabe). Konflik
dalam hubungan cintanya membuat sang ayah berubah dan selalu memaksa Yu
mengakui dosa walaupun sang anak tidak berbuat dosa. Hal itulah yang mendorong
Yu untuk berusaha sebisa mungkin berbuat dosa untuk memuaskan ayahnya. Dari
seorang remaja baik hati, Yu berubah menjadi seorang fotografer celana dalam
wanita yang ahli. Dia pun mendapat julukan "raja mesum" karena
kehebatannya mengambil foto tanpa terdeteksi. Tapi Yu sendiri tidak terlalu
menikmati apa yang ia lakukan, terlihat dari fakta bahwa ia sama sekali belum
pernah mengalami ereksi meskipun mengambil banyak foto celana dalam wanita. Yu
berharap suatu hari ia akan bertemu dengan "Maria" yang ia impikan.
Dari situlah ia bertemu dengan karakter utama yang kedua, seorang wantia remaja
bernama Yoko Ozawa (Hikari Mitsushima) yang ternyata merupakan anak dari mantan
pacar Kaori. Lewat Yoko-lah Yu berhasil mendapatan ereksi pertamanya yang membuat
Yu yakin bahwa Yoko adalah wanita yang ia cari selama ini. Tapi usaha Yu
"mendapatkan" Yoko tidaklah mudah karena kebencian Yoko pada
laki-laki yang dipicu pelecehan seksual yang dilakukan ayahnya dulu. Belum lagi
datangnya gangguan dari karakter ketiga, Aya Koike (Sakura Ando), wanita yang
juga mendapat pelecehan seksual dari sang ayah dan kini menjadi salah satu
anggota "Zero Church" sebuah agama sesat yang baru didirikan dan
menimbulkan kontroversi.
Percayalah dengan durasi empat jam Love Exposure bercerita
jauh lebih banyak dan lebih gila dari apa yang saya tuliskan diatas. Love Exposure adalah
bentuk totalitas luar biasa dari Sion Sono. Sono total dalam bercerita. Banyak
hal yang ia masukkan disini mulai dari cinta, nafsu, agama, keluarga dan
beberapa kulutr populer lain termasuk upskirt photography yang
mana semuanya saling berkaitan satu sama lain dan memberikan sebuah cerita
besar yang mendalam serta complicated. Sono
juga total dalam menghadirkan semua cerita itu dengan begitu berani, frontal
dan tidak berusaha "bermain aman" meski menyinggung agama yang
merupakan tema sensitif. Dengan kegilaannya Sono menunjukkan bahwa nafsu adalah
bawaan manusia yang bisa ada di siapa saja tidak terkecuali para ahli agama.
Film ini banyak bicara soal agama khususnya iman. Kita diperlihatkan bagaimana
jika pengetahuan tentang agama yang mendalam tidak didukung dengan pemahaman
rasa serta keimanan yang kuat. Love Exposure pun
akan membeberkan bagaimana mereka yang harusnya menjadi "pelayan
Tuhan" tapi tidak bertindak seperti yang seharusnya. Tapi tidak hanya
agama, film ini juga membahas tentang keluarga, lebih tepatnya pencarian
kebahagiaan dalam keluarga yang dilakukan oleh mereka yang mempunyai pengalaman
buruk dengan keluarga. Saya sangat menyukai eksplorasi tentang ketiga karakter
utamanya. Mereka sama-sama melakukan self destruction dalam
tingkatan yang ekstrim karena masalah keluarga khusunya dari figur ayah yang
buruk.
Kita akan melihat bahwa ketiganya sama -sama melakukan pencarian
terhadap kebahagiaan, mencari figur keluarga yang mampu membawa kehidupan yang
bahagia entah itu mereka sadari atau tidak. Yu adalah sosok yang sadar akan hal
itu, sedangkan Yoko ada di tengah-tengah. Dia membenci laki-laki, tidak ingin
mendapat keluarga baru karena merasa cukup atas penderitaan yang ia alami
karena keluarganya tapi ia juga mencari sosok "teman" dalam diri
Kaoru misalnya. Sedangkan Aya adalah sosok yang bisa dibilang paling tidak
menyadari atau tidak terlihat melakukan pencarian itu, tapi sesungguhnya di
hatinya yang terdalam dia hanya ingin mempunyai sosok yang tahu penderitaan
yang ia rasakan. Bukankah banyak anggapan bahwa "orang yang paling
mengerti kita adalah mereka yang mengalami hal yang sama dengan kita"?
Dari sekian banyak konfik dan aspek yang dibahas, sesungguhnya ada satu hal
yang paling berpengaruh dan menyatukan segalanya, yaitu cinta. Seperti 1
Corinthians 13 yang terdapat dalam Injil dan diucapkan oleh Yoko di pertengahan
film, cinta adalah hal yang paling kuat bahkan jika dibandingkan dengan
keyakinan dan harapan sekalipun. Di tengah berbagai keabsurdan, kegilaan dan
sisis depresif yang begitu kuat disini ada romantisme yang begitu kuat lewat
kisah cinta yang disampaikan. Love Exposure punya
kisah cinta yang awalnya dimulai dengan lucu tapi perlahan semakin terasa
menyentuh bahkan tragis.
Sebagai sebuah film yang banyak bicara tentang penderitaan tentu
saja film ini mengandung aura depresif yang kental. Disinilah totalitas Sion
Sono kembali terlihat. Love Exposure bisa
terasa begitu pedih, menyesakkan dan depresif tapi disisi lain juga punya sisi
komedi yang luar biasa lucu. Sono menerapkan salah satu ilmu yang
"diajaarkan" oleh Hitchcock yaitu jika ingin memberikan impact yang
besar pada penonton, maka pada awal film berikanlah tone yang sama
sekali berbeda tapi efektif. Meskipun dari awal film ini sudah menyinggung
penderitaan khususnya yang terjadi antara Yu dan ayahnya, tapi auranya sama
sekali tidak pernah terasa depresif karena banyaknya selipan komedi super
konyol yang absurd tapi efektif memancing tawa. Saya berhasil dibuat tertawa
terpingkal-pingkal saat Yu mulai belajar upskirt photography yang
dipadukan dengan teknik kung-fu. Setelah itupun komedinya terus bekerja
khususnya berkat sentuhan cerita tentang kemesuman dan fetish yang
dimilik Yu dan teman-temannya. Pada akhirnya saat film ini selesai
memperkenalkan karakter dan pangkal permasalahannya, aura depresif pun perlahan
masuk dan itu sangat efektif. Saya merasakan kepedihan luar biasa saat adegan
Yu kabur dari rumah apalagi saat ia dengan begitu putus asanya mencoba
meyakinkan Yoko. Pedih. Klimaksnya juga sama saja. Brutal, gila dan begitu
depresif melihat "kehancuran" yang terjadi.
Tentu saja Sono masih memasukkan adegan-adegan brutal nan disturbing disini.
Akan ada banyak darah muncrat sampai penis yang terpotong...dengan beberapa
cara. Belum lagi beberapa twistyang berhasil
membuat saya bersumpah serapah. Yah, tapi Love Exposure memang
senantiasa berhasil membuat saya mengumpat berkali-kali karena kegilaannya.
Seperti biasa, film ini juga punya keunggulan yang sering muncul dalam
film-film Sono yaitu iringan musiknya yang megah dan begitu berhasil membangun
suasana. Entah itu orkestra, musik klasik maupun yang punya sentuhan modern
semuanya merupakan scoring yang
berhasil membangun adegan-adegan yang ada. Dengan durasinya yang luar biasa
panjang, mungin dibutuhkan ketahanan yang lebih untuk menonton film ini. Untung
saja durasinya yang tadinya mencapai enam jam dipotong, karena sesungguhnya
tensi film ini sempat menurun saat melewati durasi tiga jam sebelum akhirnya meningkat
lagi saat mendekati klimaks. Tapi secara keseluruhan Love Exposure seperti
yang saya bilang tadi merupakan bentuk totalitas dan kegilaan luar biasa dari
Sion Sono. Sebuah perjalanan gila yang sanggup menaik turunkan emosi
penontonnya lewat kisah cintanya. Cinta akan semua hal.


Komentar
Posting Komentar